Sabtu, 22 April 2017

Mitologi Ular Piton



Konservasi Alam Lewat Tradisi Lisan
(Sebuah Mitologi tentang Ular)
 

As’ad Sattari
Mahasiswa pascasarjana UNM Makassar, jurusan Pendidikan Bahasa Inggris
Guru SMA Negeri 1 Alu, kab Polman

Seperti air, globalisasi kebudayaan terus mengalir, mengisi dan menggenangi seluruh ruang-ruang di rumah kita, di sudut-sudut kampung. Kebudayaan lokal kita makin terdesak, nyaris tak bergerak. Kebudayaan global tersebut tidak datang sendiri tetapi ditunggangi banyak kepentingan. Mulai dari kepentingan ekonomi, sosial hingga politik. Kebudayaan lokal yang menjadi benteng terakhir kekuatan identitas masyarakat kita, seperti kelinci yang berada dalam kandang ular, tanpa daya sama sekali. Respon kita terhadap derasnya globalisasi kebudayaan tersebut bahkan penuh hasrat. Konon, semuanya karena kepentingan kehidupan.
Kita tak pernah menyadari bahwa justru kebudayaan lokal yang dimiliki bangsa inilah  yang membuatnya bisa besar dan bertahan hingga kini. Kebudayaan yang kita bangun selama ini telah menjaga dan merawat keseimbangan hidup berbangsa, tidak hanya terhadap sesama manusia tetapi juga makhluk lain yang ada di dalamnya.
Tradisi Tumbai Sialang di Riau misalnya, untuk urusan pencarian rejeki mereka menggunakan ritual yang mereka anggap sebagai sebuah metode paling tepat untuk berinteraksi dengan alam. Musyawarah adat dilakukan untuk memulai “bercengkerama” dengan kawanan lebah di pohon Sialang. Mereka menggunakan tradisi lisan berbentuk pantun yang diucapkan seperti mantra sebagai alat komunikasi pada jenis pohon tua yang ditempati lebah liar menyimpan madunya. Mata Budaya yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia tersebut tentu harus dilihat sebagai sebuah upaya untuk menjaga keseimbangan kehidupan. Hal ini merupakan bentuk penghargaan yang sangat tinggi terhadap alam.
Peristiwa munculnya ular-ular besar di Sulawesi Barat beberapa waktu terakhir mengundang sederet pertanyaan; mengapa dan bagaimana hal itu terjadi? Menurut Kapolhut KSDA Kaupaten Mamuju, Ardi, sebagaimana dikutip dari banniq.com, ular piton dan buaya bisa mendekati perkebunan bahkan perkampungan karena habitat mereka telah diganggu. Kejadian paling disesalkan tentu saja ketika Akbar, warga Salubiro Kabupaten Mamuju Tengah ditelan ular piton pertengahan Maret lalu. Padahal Piton sesungguhnya termasuk reptil paling pemalu seperti yang dikemukakan oleh Rahayu, dosen Biologi dari Universitas Sulawesi Barat pada sebuah diskusi yang diadakan Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Kota Mandar beberapa waktu lalu.

Ular dan mitologi di daerah Mamuju sesungguhnya bukan hal yang baru dalam kebudayaan Mandar. Daerah ini sejak dahulu dikenal sebagai daerah hutan yang dihuni ular-ular besar. Struktur genetik yang ada di dalam cerita rakyat berjudul “Sikente” cukup menjelaskan tentang itu. Ada beberapa bagian dalam cerita rakyat asal Mamuju tersebut yang selayaknya menjadi pelajaran bagi generasi saat ini.
Bagian yang paling penting dalam cerita rakyat tersebut ketika di suatu waktu sepasang kekasih pergi ke sebuah gunung dan dinyatakan hilang. Semua orang-orang di kampung mencari dan mereka tidak menemukan tanda-tanda keberadaan sepasang kekasih yang tengah dimabuk cinta tersebut. Kedua orang tuanya sangat resah sebab di Gunung Kasoro diketahuinya dihuni ular yang sangat besar yang diduga telah memangsa anaknya.
Tomeandi, anak dari Sikente, To Tua Noboya atau pemimpin dari orang-orang kampung itu, memberanikan diri untuk pergi ke gunung dan mencari ular besar tersebut. Tiba di sana, dia bertemu seekor ular besar dengan mata merah dan menjulurkan lidah. Percakapan terjadi di antara keduanya. Si ular mengakui bahwa ia telah menelan dan memuntahkan sepasang kekasih itu ke pantai tanjung Baku dan telah berubah menjadi batu. Ular itu berdalih bahwa pasangan kekasih muda itu datang dan mengganggu tidurnya, mengotori tempat dan berbuat kotor di sana.
Diceritakan ular tersebut akan melepas Tomeandi bahkan berjanji akan menjaga orang-orang kampung bila dia berhasil mengalahkannya. Dengan kesaktian yang dimiliki, akhirnya Tomeandi melaksankan tugasnya dengan baik dan kembali ke kampung mengabarkan tentang ular dan sepasang kekasih yang sudah menjadi batu itu.
Bagian yang menceritakan keberhasilan Tomeandi mengalahkan ular itu tentu tidak bisa dipisahkan dari cerita keluhuran Sikente, ayahnya. Sikente dikenal sosok yang sangat mencintai alam. Bahkan dia memiliki semua syarat yang diberikan padanya ketika akan diangkat menjadi pemimpin. Semua penduduk hadir dan melihat sikap dan perilaku keseharian calon pemimpin mereka. Sebuah upaya yang sangat beradab ditunjukkan penduduk ketika perilaku keseharian (track record) diusulkan sebagai syarat utama seseorang layak dijadikan pemimpin. Seseorang tidak bisa menjadi pemimpin bila kedapatan menebang pohon dan tidak memanfaatkannya. Terutama menebang pohon di dekat mata air dan mengambil batu di dalam sungai tanpa tujuan yang jelas. Sikente memenuhi semua syarat tersebut sebagai pemimpin yang mencintai alam.
Sebagai salah satu bentuk dari tradisi lisan, cerita rakyat sudah saatnya dimunculkan kembali sebagai salah satu referensi sekaligus spirit edukasi dalam melestarikan kebudayaan lokal. Mitologi ular dalam cerita rakyat asal Mamuju ini patut direkonstruksi kembali dalam upaya pelestarian alam di masa kini. Memelihara alam dan makhluk yang ada di dalamnya harus dimulai dari pemimpin yang ada. Pemimpin memiliki otoritas untuk memberi contoh dalam mecintai alam, tidak melakukan legaliasasi pada tindakan-tindakan yang dapat merusak lingkungan, dan membuat regulasi terkait upaya konservasi alam dan binantang yang ada di dalamnya. Karakter pemimpin dalam cerita rakyat di atas cukup menjelaskan perihal tersebut. Dia harus mencintai alam dan tidak merusak keseimbangan yang ada disana.
Sebaliknya, alam dan makhluknya akan mengganggu bila kehadiran manusia memberi ancaman bagi keberlangsungan hidupnya. Hak hidup tidak hanya milik manusia. Kita hanya perlu berinteraksi dan berdamai dengan alam dengan bahasa kebudayaan. Bahasa keluhuran, bahasa yang berbudi. Dan, setiap masyarakat memiliki kebudayaan tersendiri dalam memperlakukan alam sekitarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar