Konservasi
Alam Lewat Tradisi Lisan
(Sebuah
Mitologi tentang Ular)
As’ad Sattari
Mahasiswa
pascasarjana UNM Makassar, jurusan Pendidikan Bahasa Inggris
Guru
SMA Negeri 1 Alu, kab Polman
Seperti
air, globalisasi kebudayaan terus mengalir, mengisi dan menggenangi seluruh
ruang-ruang di rumah kita, di sudut-sudut kampung. Kebudayaan lokal kita makin terdesak,
nyaris tak bergerak. Kebudayaan global
tersebut tidak datang sendiri tetapi ditunggangi banyak
kepentingan. Mulai dari kepentingan ekonomi, sosial hingga politik. Kebudayaan
lokal yang menjadi benteng terakhir kekuatan identitas masyarakat kita, seperti
kelinci yang berada dalam kandang ular, tanpa daya sama sekali. Respon kita terhadap derasnya globalisasi kebudayaan tersebut bahkan penuh hasrat. Konon, semuanya karena
kepentingan kehidupan.
Kita
tak pernah menyadari bahwa justru kebudayaan
lokal yang dimiliki bangsa inilah yang
membuatnya bisa besar dan bertahan hingga kini. Kebudayaan yang kita bangun
selama ini telah menjaga dan merawat keseimbangan hidup berbangsa, tidak hanya
terhadap sesama manusia tetapi juga makhluk lain yang ada di dalamnya.
Tradisi Tumbai Sialang di Riau misalnya, untuk
urusan pencarian rejeki mereka menggunakan ritual yang mereka anggap sebagai
sebuah metode paling tepat untuk berinteraksi dengan alam. Musyawarah adat dilakukan untuk memulai “bercengkerama” dengan kawanan lebah di
pohon Sialang. Mereka menggunakan tradisi lisan berbentuk pantun yang diucapkan
seperti mantra sebagai alat komunikasi pada jenis pohon tua yang
ditempati lebah liar menyimpan madunya. Mata Budaya yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak
Benda (WBTB) Indonesia tersebut tentu harus dilihat sebagai sebuah upaya untuk
menjaga keseimbangan kehidupan. Hal ini merupakan bentuk penghargaan yang
sangat tinggi terhadap alam.
Peristiwa munculnya ular-ular besar
di Sulawesi Barat beberapa waktu terakhir mengundang sederet pertanyaan; mengapa dan
bagaimana hal itu terjadi? Menurut Kapolhut KSDA Kaupaten Mamuju, Ardi, sebagaimana
dikutip dari banniq.com, ular piton
dan buaya bisa mendekati perkebunan bahkan perkampungan karena habitat mereka
telah diganggu. Kejadian paling disesalkan tentu saja ketika Akbar, warga Salubiro Kabupaten Mamuju Tengah ditelan ular piton
pertengahan Maret lalu. Padahal Piton sesungguhnya termasuk reptil paling
pemalu seperti yang dikemukakan oleh Rahayu, dosen Biologi dari Universitas Sulawesi
Barat pada sebuah diskusi yang diadakan Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Kota
Mandar beberapa waktu lalu.
Ular
dan mitologi di daerah Mamuju sesungguhnya bukan hal yang baru dalam kebudayaan
Mandar. Daerah ini sejak dahulu dikenal sebagai daerah hutan yang dihuni
ular-ular besar. Struktur genetik yang ada di dalam cerita rakyat berjudul “Sikente” cukup menjelaskan tentang itu. Ada beberapa bagian dalam cerita rakyat asal Mamuju tersebut yang selayaknya menjadi pelajaran bagi
generasi saat ini.
Bagian
yang paling penting dalam cerita rakyat tersebut ketika di suatu waktu sepasang
kekasih pergi ke sebuah gunung dan dinyatakan hilang. Semua orang-orang di
kampung mencari dan mereka tidak menemukan tanda-tanda keberadaan sepasang
kekasih yang tengah dimabuk cinta tersebut. Kedua orang tuanya sangat resah
sebab di Gunung Kasoro diketahuinya dihuni ular yang sangat besar yang diduga
telah memangsa anaknya.
Tomeandi,
anak dari Sikente, To Tua Noboya atau pemimpin dari orang-orang kampung itu,
memberanikan diri untuk pergi ke gunung dan mencari ular besar tersebut. Tiba
di sana, dia bertemu seekor ular besar dengan mata merah dan menjulurkan lidah.
Percakapan terjadi di antara keduanya. Si ular mengakui bahwa ia telah menelan
dan memuntahkan sepasang kekasih itu ke pantai tanjung Baku dan telah berubah
menjadi batu. Ular itu berdalih bahwa pasangan kekasih muda itu datang dan
mengganggu tidurnya, mengotori tempat dan berbuat kotor di sana.
Diceritakan
ular tersebut akan melepas Tomeandi bahkan berjanji akan menjaga orang-orang
kampung bila dia berhasil mengalahkannya. Dengan kesaktian yang dimiliki,
akhirnya Tomeandi melaksankan tugasnya dengan baik dan kembali ke kampung
mengabarkan tentang ular dan sepasang kekasih yang sudah menjadi batu itu.
Bagian
yang menceritakan keberhasilan Tomeandi mengalahkan ular itu tentu tidak bisa
dipisahkan dari cerita keluhuran Sikente, ayahnya. Sikente dikenal sosok yang
sangat mencintai alam. Bahkan dia memiliki semua syarat yang diberikan padanya
ketika akan diangkat menjadi pemimpin. Semua penduduk hadir dan melihat sikap
dan perilaku keseharian calon pemimpin mereka. Sebuah upaya yang sangat beradab
ditunjukkan penduduk ketika perilaku keseharian (track record) diusulkan
sebagai syarat utama seseorang layak dijadikan pemimpin. Seseorang tidak bisa
menjadi pemimpin bila kedapatan menebang pohon dan tidak memanfaatkannya.
Terutama menebang pohon di dekat mata air dan mengambil batu di dalam sungai
tanpa tujuan yang jelas. Sikente memenuhi semua
syarat tersebut sebagai pemimpin yang mencintai alam.
Sebagai salah satu bentuk dari tradisi lisan, cerita rakyat sudah saatnya dimunculkan kembali sebagai
salah satu referensi sekaligus spirit edukasi dalam melestarikan kebudayaan lokal.
Mitologi ular dalam cerita rakyat asal Mamuju ini patut direkonstruksi
kembali dalam upaya pelestarian alam di masa kini. Memelihara alam dan makhluk
yang ada di dalamnya harus dimulai dari pemimpin yang ada. Pemimpin memiliki
otoritas untuk memberi contoh dalam mecintai alam, tidak melakukan legaliasasi
pada tindakan-tindakan yang dapat merusak lingkungan, dan membuat regulasi
terkait upaya konservasi alam dan binantang yang ada di dalamnya. Karakter
pemimpin dalam cerita rakyat di atas cukup menjelaskan perihal tersebut. Dia
harus mencintai alam dan tidak merusak keseimbangan yang ada disana.
Sebaliknya, alam dan makhluknya akan mengganggu bila kehadiran
manusia memberi ancaman bagi keberlangsungan hidupnya. Hak hidup tidak hanya
milik manusia. Kita hanya perlu berinteraksi dan berdamai dengan alam dengan
bahasa kebudayaan. Bahasa keluhuran, bahasa yang berbudi. Dan, setiap masyarakat memiliki kebudayaan tersendiri dalam
memperlakukan alam sekitarnya.